| Senin, 20 April 2009 | Ditulis oleh Kusnadi | 451 Klik |
Oleh Hersubeno Arief Membaca Hasil Quick Qount |
|
Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei sudah dapat memberi kita gambaran konfigurasi kekuatan politik hasil pemilu 2009. Dengan memperhitungkan margin error 1-2% perolehan suara PKS berkisar antara 7-9%.Jumlah itu tentu saja meleset jauh dari target PKS sebanyak 20%. Apakah ini berarti kabar buruk?
Tentu saja bukan. Kita harus melihat sebaliknya.Justru hasil ini merupakan signal yang bagus bagi pertumbuhan dan masa depan partai.Sebab sejak awal, saya beranggapan target itu adalah bentuk komunikasi politik, baik secara internal maupun eksternal. Jadi bukan target real. Jika melihat hasil secara keseluruhan, maka semua partai turun.Pertama, hanya PKS dan Demokrat yang mengalami kenaikan. Partai masa Orde Baru, PDIP, Golkar dan PPP mengalami penurunan yang signifikan. Demikian pula partai yang muncul pada masa reformasi, yakni PAN,PKB, juga mengalami penurunan. Nasib tragis dialami dua partai Islam PBB dan Bintang Reformasi serta partai Nasrani PDS yang tidak tembus parliamentary threshold. Kedua, dari sisi peringkat, PKS naik dari peringkat enam, menjadi peringkat empat. Artinya PKS menjadi empat besar, atau saya sebut sebelumnya masuk dalam zona Piala Champion. Sayang sekali angkanya tidak tembus 10%, yang berarti menembus level psikologis dua digit. Ketiga, dari sisi sebaran suara PKS tidak lagi terkonsentrasi di Jawa, tetapi telah merambah luar jawa.Ini merupakan hasil yang menggembirakan, karena PKS telah berhasil memperluas ceruk pasarnya.Sayangnya PKS tidak berhasil mempertahankan dominasinya di DKI yang digeser oleh Demokrat. Sementara di Jawa Barat mesin politik PKS juga belum berhasil mengoptimalkan dan memanfaatkan secara politis keberadaan Akh Heryawan sebagai Gubernur. Keempat, perolehan kursi akan bertambah secara signifikan.Seperti kita ketahui bersama, harga kursi di Jawa jauh lebih mahal. Ini menjelaskan mengapa pada pemilu 2004 kursi PKS di DPR RI (45), kalah dibandingkan dengan PAN (53). Padahal jumlah perolehan suara PAN dibawah PKS. Berdasarkan hitung cepat LSI Syaiful, secara rata-rata di Jawa PKS memperoleh suara 8.6%, sementara di luar Jawa 6.7%. Dengan perolehan tersebut diprediksi untuk setiap Dapil di luar Jawa, PKS bisa meraih 1 kursi. Harapan tersebut makin menguat dengan hangusnya suara partai-partai yang, tidak lolos PT. Artinya harga kursinya makin murah.Dari otak-atik sementara di DPP Simatupang tadi malam, maka perolehan kursi PKS di DPR RI sekitar 65-70 kursi (pesimis), atau sampai 80 kursi (optimis). Kelima, hasil perolehan suara tersebut menunjukkan bahwa para pemilih PKS telah menjadi pemilih loyal.Hal ini terbukti dengan sejumlah survei,, bahwa loyalitas pemilih PKS tertinggi dibandingkan semua partai. Rata-rata diatas 75%.Bandingkan dengan Demokrat yang hnya berkisar 59%. Keenam, perolehan suara ini juga memberi efek psikologis kepada para kader dan simpatisan berupa level of confident, bahwa partai ini adalah partai masa depan yang terus tumbuh semakin kokoh. Bandingkan misalnya dengan prediksi partai Demokrat pasca turunnya SBY pada pemilu 2014.Diperkirakan parpol yang sebenarnya lebih berupa SBY fans club ini akan mengalami penurunan yang signifikan. Ketujuh, bargaining position semakin kuat. Naiknya suara PKS akan menjadikan posisi tawar PKS secara politik makin kuat.Dengan posisi empat besar PKS bisa menjadi King maker yang harus diperhitungkan kelompok manapun yang akan melakukan koalisi. Kedelapan, efekPublic Relation.Dari sisi ini kenaikan suara PKS akan memberikan keuntungan dan citra baik di mata publik. Catatan kritis Dari delapan sukses story tadi, perlu pula dilakukan catatan kritis terhadap PKS. Pertama, PKS belum berhasil memanfaatkan secara maksimal penurunan suara partai-partai Islam. dari exit pool, ternyata suara PKB dan PPP lebih banyak lari ke Demokrat.Bukan ke PKS. Kita harus berani melakukan terobosan untuk menembus barier tersebut. Sebab ternyata kehadiran PKS belum bisa diterima secara terbuka oleh kalangan NU dan Muhammadiyah, yang notabene merupakan pangsa terbesar partai Islam.Indikasinya sangat jelas dengan rencana penerbitan buku :Ilusi Negara Islam dan Gerakan Trans Nasionalisme, yang dieditori oleh Gus Dur dan kata pengantar oleh mantan ketua PP Muhamadiyah Prof Syafii Maarif. Kedua, masalah ini juga masih berkaitan dengan poin pertama, yakni PKS juga belum berhasil menghapus kecurigaan kaum nasionalis bahwa PKS mempunyai hidden agenda. Disamping itu kader PKS juga masih terkesan eksklusif dan belum mampu berkomunikasi dengan bahasa mereka. Poin ini merupakan kerja besar, yang tidak mudah segera dihapus, mengingat polarisasi secara sosiologis pada masyakat kita. Ketiga, kurangnya deferensiasi. Pemilu 2009 sangat berbeda dengan Pemilu 2004. Saat itu PKS mempunyai pembeda yang jelas yakni masalah bersih dan peduli. Ini dibuktikan dengan amal nyata dari para kader di lapangan. Tapi isu ini juga sudah banyak diambil oleh partai lain. Sementara masalah "bersih" sudah diambilalih oleh Demokrat dengan kampanye "Katakan Tidak pada korupsi". Keempat, belum tuntasnya transformasi secara internal dari gerakan dakwah tarbiyah menjadi gerakan dakwah politik. Para kader masih banyak yang canggung dan gagap menghadapi perubahan tersebut. Inilah yang kemudian digunakan oleh para pengamat untuk memecahbelah partai dengan isu adanya "faksi keadilan" dan "faksi kesejahteraan" . Kelima, mobilisasi dana. Masalah ini juga menjadi poin yang krusial bagi PKS.Tidak ada mesin politik yang bisa berjalan tanpa dukungan dana yang memadai. Fenomena Demokrat, atau bahkan Gerindra menjelaskan hal itu. SBY berhasil mengakumulasikan kekuasaan menjadi akumalasi kapital, yang tercermin pada pencitraan media yang massif. Bandingkan dengan iklan PKS yang hit and run, sambil menunggu datangnya "dana dari langit". Keenam, kemampuan komunikasi sosial dan politik kader yang masih lemah.Hal ini tercermin pada rendahnya mobilitas politik dan sosial kader. Contoh paling nyata adalah pada beberapa daerah dimana PKS memenangkan pilkada. Para kader PKS yang menjadi kepala daerah, maupun struktur pengurus diwilayah tersebut, belum berhasil melakukan kapitilasasi secara sosial dan politik. Ketujuh, kemampuan komunikasi media yang masih rendah. Ini menjelaskan mengapa ketika terjadi perubahan mekanisme perolehan suara terbanyak, banyak caleg PKS yang tergagap-gagap. Sebab sebagai kader tarbiyah, kader PKS selama ini lebih banyak dituntut bersikap tawadu' dan tidak menonjolkan diri. Sementara dalam politik dituntut untuk bersikap high profile. Meminjam istilah Gus Pur, jika semula kita menjadi sufi, maka harus diubah pengertiannya menjadi su(ka) ti(vi). Kedelapan, belum munculnya figur yang kuat secara nasional. Harus diakui dengan rendah hati bahwa PKS hingga saat ini belum mempunyai figur yang mampu dijual bersaing dengan tokoh-tokoh nasional lainnya. Faktor figur dan mesin politik ini, apa boleh buat masih menjadi faktor yang dominan. Bahkan di Indonesia, faktor figur mengalahkan mesin politik.Fenomena Demokrat dengan figur SBY menjadi contoh paling gamblang. Kembali menggunakan terminologi sepakbola, kita mempunyai tim yang solid, mulai dari lini pertahanan sampai di lapangan tengah. Kita punya play maker yang jagoan. Kita juga punya pendukung berupa tifosi yang loyal dan solid. Tapi kita belum punya striker dan gol getter sekelas SBY atau bahkan Megawati pada Pemilu 1999. Akibatnya sangat sulit menjadi juara liga primer atau scudetto.Yang terjadi kita akan menjadi partai medioker alias papan tengah terus. Waktunya berbenah diri! Wallohualam bisawab |