Aktifitas - Pilkada Banten
Selasa, 09 Januari 2007 | Ditulis oleh Administrator | 760 Klik
Partai Dakwah: Kalah-Menang Sudah Biasa

Beberapa poster dan pamflet Zul-Marissa masih tampak di tembok terbuka di berbagai tempat se-antero Banten. Ada juga yang tergantung di tiang-tiang telepon dan listrik. Dari posisi poster yang letaknya cukup tinggi terbayang upaya kerja keras para kader dan simpatisan PKS selama masa kampanye mendapat lampu hijau dari KPUD.

Kerja keras mereka masih menyisakan tetesan keringat dan pengorbanan waktu, tenaga, dan harta. Meski pada akhirnya KPUD Provinsi Banten menyatakan pasangan Atut-Masduki meraih suara tertinggi, sedangkan pasangan Zul-Marissa berada di peringkat kedua.

Rasa gundah menyelimuti sebagian kader dan simpatisan PKS—terutama di daerah kantong-kantong PKS--yang menyaksikan Cagub-cawagubnya kalah suara oleh rival beratnya, Atut-Masduki. Mereka pantas “lemas” menyaksikan suasana yang tampaknya ironis: Zul-Marissa mayoritas berada di atas tiga pasangan yang lain. Sedih, kecewa, dan gundah menyelimuti kenyataan yang terjadi di depan mata.

“Kita tidak kalah akhi, kita menang!” kata Ustadz Salbini, anggota DPRD Kabupaten Tangerang dalam acara “tasyakuran” yang diselenggarakan DPC PKS Pondok Aren, beberapa hari usai hasil penghitungan suara diserahkan ke KPUD. Lho, kok? Memang, bagi para qiyadah dan masayaikh PKS se-Banten, Zul-Marissa dianggap “memenangkan” pilkada 2006 ini, yakni menang secara hakiki. Pasalnya, dengan dana pilkada yang sangat terbatas, suara yang diraih pasangan yang diusung PKS-PSI tersebut mampu menembus pasangan kandidat lain yang dananya tak terbatas.

Bayangkan, berdasarkan laporan harta kekayaan yang disodorkan ke KPK dan diserahkan ke KPUD, Atut memiliki kekayaan senilai Rp 70,17 miliar. Masduki sendiri memiliki harta senilai Rp 7,77 miliar. Sementara Triyana yang pengusaha itu memiliki kekayaan sebesar Rp 29,48 miliar plus US$ 30 juta, dan Benyamin punya harta senilai Rp 1,05 miliar. Dan Irsjad yang anggota DPR RI itu melaporkan kekayaannya sebesar Rp 4,52 miliar; Daniri sebesar 8,4 miliar. Dan Zulkieflimansyah sendiri mengaku memiliki kekayaan sebesar Rp 4,86 miliar, sedangkan Marissa Rp 2,8 miliar.

Selain dukungan modal terbatas, PKS sesungguhnya menghadapi gabungan partai-partai besar yang jika ditotal mereka menguasai 44% suara dalam Pemilu 2004. Sementara PKS hanya menguasai suara 13% saja. Namun, hasil perolehan suara dalam pilkada yang memperebutkan kursi nomor satu di Banten itu Zul-Marissa mencapai sekitar 32%.

“Bagi kita, kader partai dakwah, menang dan kalah itu hal yang biasa. Emosi kita tidak tak terkendali. Kursi gubernur hanya salah satu jalan untuk membangun kemaslahatan dakwah. Masih banyak jalan-jalan lain yang membutuhkan peran-peran kita,” kata Zulkieflimansyah yang memberikan sambutan dalam acara tasyakuran di Pondok Aren itu.

Dari hasil perolehan suara untuk pasangan Zul-Marissa tampaklah bahwa peran politik PKS tidak semata dijalankan sekadar bersandar pada kekuatan modal politik serta dukungan dana. Akan tetapi, peran politik PKS itu bisa diwujudkan secara massif dengan kesolidan struktur dan jaringan yang dimiliki partai berlambang padi diapit dua bulan sabit ini.

Tak heran bila kemudian para kader kian semangat dalam menatap masa depan partai. Terlebih tahun depan (2007) Kabupaten Tangerang akan menggelar pilkada untuk memilih bupati dan wakilnya secara langsung. Modal suara yang telah diperoleh dalam pilkada Banten menjadi pemicu semangat untuk memperoleh suara yang besar nantinya. Tinggal bagaimana “mengkritisi” kerja-kerja KPUD Kabupaten Tangerang agar serius menangani pilkada, terutama soal penjaringan warga sehingga banyak yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Selain itu, sosialisasi pilkada harus tersebar luas. Tidak seperti pilkada lalu yang dinilai carut-marut.. (misroji)