Shubuh: 4:45 A.M. | Dzuhur: 12:00 P.M. | 'Asar: 3:22 P.M. | Maghrib: 5:55 P.M. | 'Isya': 7:05 P.M.
Home
Profil
Berita
Parlementaria
Opini
Liputan Media
Aktifitas
Kaderisasi
Tangerang
Search
Links
Hubungi Kami
Login
Jajak Pendapat
Menurut Anda, bagaimana Kualitas Pembangunan Fisik di Kabupaten Tangerang saat ini?
 
Statistics
Anggota: 233
Berita: 583
WebLink: 14
Pengunjung: 658141
Banners

Minggu, 17 Agustus 2008 | Ditulis oleh Kusnadi | 625 Klik
Farid Nu'man
Ketika Halal-Haram Tak Dipedulikan
Cetak E-mail
Atas nama dakwah sebagian da'i (baca: anggota dewan) bergerak laju
mencari sumber-sumber dana. Dakwah memang perlu dana, tak dipungkiri.
Namun benarkah mereka demi semata-mata dakwah? Benarkah sudah
ditimbang-timbang sesuai syariah? Semoga, dan tidak boleh berburuk
sangka! Tetapi, yang pasti dan lebih penting, bahwa dakwah lebih
membutuhkan kepada dana yang berkah, dana yang bebas dari haram dan
syubhat, atau bebas dari segala keraguan dan ketidakjelasan, agar
agama dan dunia terjaga. Dakwah tidak membutuhkan para penggiat yang
selalu mencari rukhshah dan alasan darurat, para pelaku yang selalu
membidik celah fatwa para ulama mana yang bisa 'dimainkan', atau
mencari legitimasi ketika bertanya. Tetapi dakwah lebih membutuhkan
kepada pelaku yang ikhlas, kuat, jujur, terpercaya, amanah, tidak
takut celaan manusia, wara', sensitif terhadap dosa, ingat mati, dan
menggantungkan kemenangan dakwah hanya kepada Allah Ta'ala. Di tangan
merekalah kemenangan hakiki akan di raih. Insya Allah.

Dari An Nu'man bin Basyir Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya yang halal telah jelas, dan yang haram telah jelas, dan
di antara keduanya ada yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. Barang siapa yang menjaga dirinya dari syubuhat (samar)
maka sesungguhnya dia telah menjaga agama dan harga dirinya.
Barangsiapa yang jatuh pada yang syubuhat, maka dia akan terjatuh pada
hal yang haram, seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya
di daerah terlarang, maka ia akan nyaris terperosok jatuh ke
dalamnya."

(HR. Bukhari, Kitab Al Iman Bab Fadhli Man Istabra'a Li Dinihi, Juz.
1, Hal. 90, No hadits. 50. Muslim, Kitab Al Musaqah Bab Akhdzi al
Halal wa Tarki asy Syubuhat, Juz. 8, Hal. 290, No hadits. 2996. Al
Maktabah Asy Syamilah)

Kemenangan dakwah dan harakah hanya akan diberikan kepada orang-orang
bertaqwa, sebagaimana yang Allah Ta'ala janjikan, ketika menceritakan
karakter orang-orang bertaqwa di Madinah pada awal-awal surat Al
Baqarah:

"Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS. Al Baqarah
 (2): 5)

Bukan hanya memberikan kemenangan, Allah Ta'ala juga hanya mau
menerima amal shalih orang-orang bertaqwa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak akan menerima
kecuali yang baik-baik."

(HR. Muslim, Kitab Az Zakah Bab Qabul Ash Shadaqah min Al Kasbi Ath
Thayyib wa Tarbiyatiha, Juz. 5, Hal. 192, No hadits. 1686. At
Tirmidzi, Kitab Tafsirul Quran 'an Rasulillah Bab wa Min Suratil
Baqarah, Juz. 10, Hal. 249, No hadits. 2915. Ahmad, Juz. 17, Hal. 40,
No hadits. 7998)

Bagaimanakah orang bertaqwa itu? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam menjelaskan:

"Seorang hamba tidaklah sampai derajat bertaqwa, sampai dia
meninggalkan apa-apa yang dibolehkan, karena dia hati-hati jatuh
kepada hal yang terlarang."

(HR. Tirmidzi, Kitab Shifah Al Qiyamah war Raqa'iq wal Wara' 'an
Rasulillah Bab Ma Ja'a fi Shifati Awanil Haudh, Juz. 8, Hal. 490, No
hadits. 2375. At Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib, saya
tidak mengetahui kecuali dari jalur ini." Ibnu Majah, Kitab Az Zuhd
Bab Al Wara' wat Taqwa, Juz. 12, Hal. 260, No hadits. 4205. Al Hakim,
Mustadrak 'Alas Shahihain, Juz. 18, Hal. 271, No hadits. 8013. Al
Hakim berkata: "Hadits ini sanadnya shahih, tetapi Bukhari-Muslim
tidak meriwayatkannya." Syaikh al Albany menyatakan hasan, dalam
Misykah al Mashabih, Juz. 2, Hal. 127, No hadits. 2775. Al Maktabah
Asy Syamilah)

Maka, sudah sepantasnya bagi pejuang Islam, pejuang partai dakwah,
mereka menjadi orang pertama dalam hal kehati-hatian ini. Bukan justru
menjadi bahan cemooh manusia –yang seharusnya mereka mendapatkan
contoh yang baik- lantaran dengan begitu simplistis mengatakan 'ini
demi dakwah', lalu secara tidak terkendali bermain api pada proyek,
lalu dibahasakan dengan 'mengawal proyek', namun orang lain melihatnya
sebagai minta jatah, minta persenan, dan lainnya. Sehingga ada kesan
'kemaruk' proyek dan menjadi bahan hangat pemberitaan media masa dan
pengamat.

Ini semua sudah terjadi. Maka, hati-hatilah! Alih-alih demi maslahat
dakwah, ternyata dakwah dan da'inya justru dijauhkan dan
diperolok-olok umat karena perbuatan yang mereka sangka baik namun
tanpa perhitungan,

Allah Ta'ala telah memperingatkan:

"Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang
telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka
menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al Kahfi (18):
103-104)

Yang Pasti-Pasti Saja, Memang, di zaman serba sulit, banyak manusia
yang berputus asa. Sampai-sampai ada yang mengatakan –walau nada
gurau-, "Jangankan yang halal, yang haram saja susah." Ungkapan nihil
optimisme ini tidak boleh ada pada pribadi da'i yang telah lulus
seleksi salimul aqidah yang meyakini wallahu khairur raaziqiin
(Allah-lah sebaik-baiknya pemberi rezeki).


Dahulu, Al Imam Asy Syahid –Insya Allah- Hasan al Banna Rahimahullah,
ditawari berceramah tentang demokrasi di radio dengan imbalan 5000
Pound (nilai yang sangat besar saat itu) dari penjajah Inggris, dangan
syarat ia harus berceramah tentang Demokrasi menurut pemahaman
Inggris. Imam al Banna menolak dan berkata: "Enyahlah kalian! Kalian
telah tersesat dari jalan yang benar dan menyimpang dari kebenaran!"
(Badr Abdurrazzaq Al Mash, Manhaj Da'wah Hasan Al Banna, Hal.
79)Inilah Al Banna, dia tidak berkata: "Saya akan terima, uang ini
akan saya manfaatkan demi maslahat dakwah ke depan." Tidak! Dia bukan
tipe orang yang menggadaikan ashalah dakwah demi seonggok sampah
dunia, dan dia meyakini bahwa niat yang baik tidaklah merubah
keharaman. Dia bukan tipe orang yang berdalih 'demi maslahat' tetapi
syariat menjadi korban. Sebab, dia memahami, "Dar'ul Mafasid
Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih" (menolak kerusakan harus didahulukan
dari pada mengambil maslahat).


Dahulu, Ustadz Umar At Tilmisani Rahimahullah bertemu dengan salah
seorang menteri pada masa pemerintahan Anwar Sadat. Keduanya saling
bertukar pandangan, di akhir perbincangan menteri itu berkata:
"Bagaimana kondisi keuangan Anda?"
Ustadz Umar menjawab: "Alhamdulillah baik, tertutupi."
Menteri: "Sesungguhnya Negara mendukung Koran dan majalah di Mesir,
dan majalah Ad Da'wah sebagai majalah Islam lebih berhak
mendapatkannya."
Ustadz Umar sambil menahan emosinya berkata: "Ya Syaikh … nabi sudah
mendahului Anda … jangan lagi membicarakan ini denganku." (Muhammad
Abdul Hamid, 100 Pelajaran Dari Para Pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hal.
141)

Dahulu, ketika Syaikh Dr. Said Ramadhan al Buthy mendapatkan honor
pertamanya sebagai dosen dari mengajar pada perguruan milik
pemerintah, lalu dia memberikan sebagian honornya kepada ayahnya yakni
Syaikh Ramadhan al Buthy. Namun tanpa diduga, uang itu ditolak
ayahnya, karena faktor 'syubhat'nya uang pemerintah.

Demikianlah contoh para du'at sejati, du'at yang jujur, dan pemimpin
sejati, dan seharusnya begitulah kita berlomba-lomba, hanya berani
menerima dana untuk dakwahnya dari sumber pendanaan yang pasti
kehalalannya dan pasti keamanannya. Tidak lucu jika seorang da'i
–karena keluguan dan kelatahannya main proyek- dia memanfaatkan uang
yang bukan haknya, bukan pula hak jamaah, dengan dalih demi dakwah,
dan dia membeberkan hal itu ketika digeledah KPK! Lalu diberitakan
media massa, yang mereka tahu adalah Anda telah memanfaatkan uang
negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk dakwah? Untuk
daurah? Mereka tidak mau tahu ….. Sekali lagi, tahan nafsumu ….
 Jangan
sampai ini terjadi. Minimal … Rasa Malu ..

Rasa malu adalah benteng terakhir. Rasa malu membuat pezina
mengurungkan niatnya, rasa malu membuat pelaku porno aksi membatalkan
aksinya dan rasa malu membuat seorang tokoh harus menjaga citra
dirinya. Para da'i adalah orang yang paling berhak menyandang sebagai
pemalu. Malu berbuat maksiat, malu jika diam dari kemungkaran, malu
tidak shalat berjamaah di masjid, malu jika menerima uang yang bukan
haknya, malu 'memohon' jatah mobil baru ke pemda dengan dalih demi
operasional dakwah … lagi-lagi dakwah dijadikan alas an, lebih
tepatnya dikambinghitamkan.

Hendaklah mereka malu kepada Allah Ta'ala, dan kalau pun sudah tidak
malu kepada Allah Ta'ala, malu-lah kepada malaikat sang pencatat,
kalau pun tidak malu kepada malaikat, malu-lah kepada manusia, kalau
pun tidak malu kepada manusia, malu-lah kepada keluarga di rumah,
kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malu-lah kepada diri
sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah
kesalahan, minimal meragukan. Fitrah keimanan akan menolaknya, kecuali
jika memang sudah taraf Imanuhum fi Proyekihim (Iman mereka ada pada
proyek-proyek mereka).

Maafkan saya jika harus mengatakan seperti yang dikatakan oleh
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
"Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang manusia dapatkan adalah:
"Jika kamu tidak lagi mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa saja
sekehendakmu." (HR. Bukhari, Kitab Ahadits Al Anbiya Bab Hadits Al
Ghar, Juz.11, Hal. 302, No hadits. 3224. Ibnu Majah, Kitab Az Zuhd Bab
Al Haya', Juz. 12, Hal. 221, No hadits. 4173, semuanya dari jalur Abu
Mas'ud. Al Maktabah Asy Syamilah)

Harus Diselamatkan!

Tak ada kata lain, dakwah ini harus diselamatkan jika ingin tidak
berakhir sebelum kisahnya selesai. Allah Ta'ala telah menceritakan
umat-umat terdahulu yang dimusnahkanNya lantaran sikap keras kepala,
pembangkangan, dan menghalalkan segala cara.

Sudah sering kita membicarakan 'Kemenangan Dakwah'. Seharusnya –saat
ini- lebih penting kita membicarakan 'Keselamatan Dakwah'. Bagaimana
bisa menang jika eksistensi terancam. Ya, secara formal masih eksis,
tetapi secara nilai dan moral, sudah tidak dianggap oleh manusia.
Manusia menganggapnya sama dengan (partai) lainnya. Ini bahaya. Harus
diluruskan dengan evaluasi dan koreksi diri lalu bertobat dan merubah
sikap, bukan dengan apologi dan membela diri membabi buta, tak peduli
benar salah.
Sayang, jika dakwah ini –yang Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi
Rahimahullah katakan laksana pohon yang baik, akarnya menghujam dan
dahannya meninggi- harus rubuh lantaran perilaku segelintir orang yang
tidak lagi peduli, paling tidak memudar kepekaannya terhadap salah
satu perkara penting dalam Islam; yakni halal-haram, khususnya
halal-haram dalam mendapatkan uang.

Wallahu A'lam

 
  Untuk tampilan terbaik gunakan Mozilla Firefox
  Hubungi Kami:
© 2006-2008 DPD PK Sejahtera Kabupaten Tangerang  
Jl. Puspiptek Raya No 8 - Setu - Tangerang 15413