|
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi Banten, 25 November 2006, penuh hiruk. Empat pasangan kandidat pemimpin rakyat Banten saling tebar pesona untuk merebut hati konstituen. Masing-masing kandidat menonjolkan figuritas. “Saya adalah pendiri provinsi Banten”; “Saya adalah pemimpin Banten yang sudah teruji”; “Saya adalah putera asli Banten”; “Saya adalah tokoh muda yang cerdas dan merakyat”. Demikianlah, setiap pasangan optimis dan yakin akan menjadi pemenang, bukan pecundang. Maka, mereka pun terus bergerilya dan pada saatnya berkampanye ke seluruh lini masyarakat, dari kelas teri hingga kelas kakap. Juga, para kandidat “terpaksa” menyusuri lorong-lorong sempit di pasar, jalan setapak berlumpur di arena persawahan, serta jalan berkubang dan berlubang nun jauh di pelosok seperti wilayah pedalaman Lebak.
Hampir semua kandidat tak sadar bahwa rakyat akan memilih calon pemimpin yang dikenal mereka. Bukan hanya dikenal, rakyat pun tanya sana tanya sini tentang sang calon dari berbagai sumber sehingga mereka tak ragu untuk memberikan titipan suaranya pada pasangan yang pas.
Saat hari pemilihan di gelar, Sabtu, pemilih berdatangan ke tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar ke seluruh lokasi pemilih. Meski yang nampak di lapangan jumlah pemilih yang datang ke TPS rata-rata di bawah 60%, Pilkada Banten berhasil diselenggarakan dengan aman dan terkendali. Ratu Atut Chosiyah, Plt. Gubernur Banten, akhirnya dinyatakan sebagai pemenang oleh KPUD Provinsi Banten.
Seperti banyak dimaklumi khalayak umum di seantero Provinsi Banten, Atut memang telah running jauh-jauh tahun sebelum Pilkada digelar. Gerilya tim sukses Atut sudah dimulai sejak dini. Wajah dan namanya telah di-marketing-kan ke semua lapisan masyarakat, dari elite hingga orang alit (wong cilik).
Wujudnya bisa dilihat di berbagai medium seperti spanduk, kalender, poster, dan blocking space di hampir seluruh media massa yang terbit di Banten. Personal branding Atut yang khas sedemikian dikenal akrab warga. Sehingga, meski ia berhadapan dengan artis kondas Marissa Haque, ketenaran Ratu Atut tampak tetap lebih unggul.
Atut memang telah melakukan “investasi jangka panjang” dalam menghadapi Pilkada. Seluruh potensi yang dimilikinya dikerahkan guna meraih kursi nomor satu itu. Posisinya sebagai pelaksana tugas gubernur memberikan peluang besar untuk leluasa bergerak dan sosialisasi ke warga. Sementara kekayaan yang melimpah dari mana-mana, ia manfaatkan pula untuk all out menyambut hari kemenangan.
Petik pelajaran Uang atau dana yang besar memang menjadi salah satu faktor menuju kursi empuk. Dan Ratu Atut, yang kabarnya telah menggelontorkan dana ratusan miliar, telah berhasil meraih kursi itu. Namun, jangan lupa bahwa dana super besar itu bukan layaknya dewa penyelamat. Kebersihan personal dalam jejak rekam (track record) selama jenjang karir atau politiknya lebih sangat menentukan kelanggengan (sustainable) masa depannya. Ingat, era keterbukaan dan transparansi seperti sekarang sudah tak lagi dapat memberi ruang longgar bagi orang-orang “kotor” penuh KKN. Banyaknya kepala daerah yang diseret ke meja hijau belakangan ini, cukuplah menjadi contoh konkret. Gerilya panjang kampanye Atut hingga menjelang Pilkada bolehlah kita tiru. Namun, kebersihan dan ketulusan kandidat untuk memimpin harus menjadi perhatian utama. Bayangkan kalau kandidat hanya mengincar kursi tanpa ada niatan yang kuat untuk melayani, membimbing, dan memimpin rakyat! Pemimpin seperti ini, cepat atau lambat, akan menuai banyak masalah, yang ujung-ujungnya akan berhadapan dengan pengadilan. Pengadilan negara ataupun pengadilan rakyat. Nah! (Misroji)
|