|
Pilkada Banten memberikan kita satu pelajaran penting, bahwa hasil pemilu ternyata bisa diprediksi dengan riset yang akurasi dan validasinya bisa dipertanggungjawabkan. Setidaknya demikian yang tergambar dari hasil survey kesatu dan kedua dari lembaga riset yang telah kita tunjuk dan percayakan untuk mengelolanya.
Pada survey kedua misalnya. Secara jelas tergambar dukungan publik di Provinsi Banten dalam Pilkada terhadap keempat pasang cagub-cawagub yang telah ditetapkan KPUD. Hasilnya, dengan serangkaian perlakukan tertentu, dengan media sosialisasi yang kita miliki, rival kita yang incumbent, bertaut di posisi atas, selisih 6,3 persen di atas kita. Atut-Masduki memperoleh dukungan 31, 8 persen. Sementara Zul-Marissa memperoleh 25, 5 persen.
Kenyataan, prediksi perolehan suara lembaga riset yang dikelola kader kita- tentu dengan alasan profesionalisme tidak perlu kita sebutkan nama lembaga riset itu- hampir sama persis dengan hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan KPUD. Atut-Masduki memperoleh 1.414.569 suara (40, 2 persen), sementara diposisi kedua Zul-Marissa memperoleh 1.155.849 suara (32, 9 persen). Selisih 7,3 persen suara.
Terus terang, hal ini membuat saya secara pribadi sangat bergembira, bahwa ternyata kader-kader kita bisa melakukan riset-riset yang tidak kalah hebatnya dari institusi riset mapan macam LSI atau lainnya.
Hal ini, akan membawa kita pada satu perpektif, bahwa struktur partai, khususnya di tingkat DPP, selain data-data dan informasi yang sudah ada tentang pertumbuhan dan penyebaran kader, target-target dan program-program rutin, perlu meningkatkan budaya analisis data dan informasi. Misalnya, kalau pemilu diadakan hari ini, sebenarnya kita dipilih oleh beberapa orang, persentasenya berapa dan diposisi nomor berapa kita sekarang.
Informasi ini kemudian dapat digunakan sebagai landasan oleh DPP untuk, antara lain : memetakan daerah-daerah unggulan, daerah-daerah belum tersentuh dakwah, membuat program-program yang cocok dengan kebutuhan masyarakat. Baik yang sudah dan belum memilih kita. Informasi tersebut juga berguna untuk menentukan tokoh-tokoh bagaimana untuk mendatangi masyarakat tersebut.
Tak kalah pentingnya, kita menjadi mudah menentukan isyu-isyu yang harus digulirkan oleh Ketua MPR, Menteri-menteri kita, DPP, anggota DPR, DPRD, DPW dan DPD untuk menarik hati masyarakat.
Kalau data dan inforemasi tersebut terus di update di tinhgkat DPP, DPW dan DPD nampak arah yang jelas dan terukur. Dengan mudah Insya Allah kita bisa memprediksi kira-kira persentase jumlah suara kita berapa di pemilu 2009, dari daerah mana saja, berapa kira-kira anggota DPR, DPRD yang akan kita miliki, kompetitior kita siapa saja, dan sederet informasi lain sebagai bahan untuk melakukan formulasi strategi kita ke depan. Akhirnya, semua itu memang membutuhkan uang. Namun, untuk informasi sestrategis ini semua itu tidak menjadi kendala buat kita. Wallahu'alam.
* Penulis adalah calon gubernur Banten dalam pilkada Banten 2006 |