Shubuh: 4:45 A.M. | Dzuhur: 12:00 P.M. | 'Asar: 3:22 P.M. | Maghrib: 5:55 P.M. | 'Isya': 7:05 P.M.
Home
Profil
Berita
Parlementaria
Opini
Liputan Media
Aktifitas
Kaderisasi
Tangerang
Search
Links
Hubungi Kami
Login
Jajak Pendapat
Menurut Anda, bagaimana Kualitas Pembangunan Fisik di Kabupaten Tangerang saat ini?
 
Statistics
Anggota: 233
Berita: 583
WebLink: 14
Pengunjung: 658129
Banners

Kaderisasi - Tarbiyah
Selasa, 09 Januari 2007 | Ditulis oleh Administrator | 1320 Klik
Imron Rosadi, LC. Ketua DSD PKS Kab. Tangerang
Qodarallahu Wa Maasya Faala
Cetak E-mail

ImagePemilihan Gubernur Banten baru saja usai. Hasil akhir penghitungan oleh KPUD Banten pun telah kita ketahui bersama. Terlepas dari berbagai kritik yang mengiringinya, KPUD Banten sudah menetapkan bahwa pasangan yang kita usung Zul-Marissa menempati posisi kedua dan pemenangnya adalah calon Incumbent, pasangan Atut-Masduki.

Usaha maksimal dengan berbagai macam kegiatan pemenengan calon gubenur yang kita usung sudan kita lakukan bersama. Bagi seorang muslim, apapun hasil akhir yang kita peroleh, setelah melakukan usaha maksimal hendaknya senantiasa mendatangkan sikap yang positif. Bersyukur atau bersabar. Bersyukur atas nikmat yang tatah dianugrahkan Allah Swt kepadanya dengan menjalankan berbagai Ibadah tambahan sesuai dengan kontek nikmat yang dirasakanya. Sebaliknya ia akan bersabar jika harapan yang di inginkannya belum menjadi kenyataan.

Dua sikap ini sangat terpuji sehingga Rasulullah pun bangga dan terkagum-kagum dengan akhlak seperti ini, beliaupun bersabda:

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin itu, segala sesuatu menjadi bernilai baik baginya dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapat nikmat ia bersyukur dan itu tentu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah ia pun bersabar. Dan itupun baik baginya”.

Di kalangan masyarakat, sering kekalahan, keceIakaan, musibah dan sebagainya disikapi dengan keluhan, kekesalan bahkan penyesalan yang berlebihan. Akan tetapi seharusnya, ungkapan yang keluar dari lisannya ada!ah : ”Qoddarallahu wa masyaa’a faa'la” (Allah telah mentakdirkan demikian dan apa yang diinginkanNya (baik maupun buruk menurut kita) Dialah yang mampu untuk melakukannya).

Rasulullah menginginkan agar kita senantiasa bersikap positif dalam menyikapi segala hal. Bahkan sekedar mengatakan "kalau dan seandainya". Yang nuansanya penyesalan dilarang oleh beliau Saw. Karena hal itu akan membuka celah bagi syaitan untuk masuk lebih dalam ke hati kita, mengoreksi ulang keikhlasan, pengorbanan dalam perjuangan yang telah kita lakukan baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi sehingga tadhiyyah tarsebut manjadi sia-sia.

Untuk menegaskan hal itu Rasulullah Saw bersabda : "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di cintai Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun pada keduanya terdapat kebaikan, raihlah apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan dari Allah, jangan lemah. Dan jika suatu musibah menimpamu maka janganlah kamu mengatakan, seandainya saya melakukan ini dan itu tentu akan begini dan begitu. Karena ucapan seandainya dapat membuka perbuatan syaitan. (HR. Muslim)

Namun, bukan berarti kita boleh mengesampingkan evaluasi. Karena melakukan evaluasi atas pekerjaan kita, terutama setelah selesai melakukan satu babak perjuang itu amat penting untuk mengokohkan kekuatan di babak perjuangan berikutnya. Disamping juga, evaluasi akan menjadikan perjuangan senantiasa berujung dengan happy ending.

Terkait dengan hal ini Allah Swt berfirman :

Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS: Ali Imran ayat : 146-148)

Dari ayat di atas terlihat jelas bahwa doa yang senantiasa diucapkan oleh para Nabi dan kader-kadernya dalam jihad fisabilillah adalah memohon ampunan atas dosa-dosa mareka dan atas tindakan-tindakan mereka sendiri yang melampaui batas atau melalaikan tugas-tugas dalam menyukseskan jihad.

Begitu juga dengan kita, sangat mungkin diantara kita, dalam jihad pilkada kemarin ada yang karena kondisi tertentu telah melakukan dosa. Apapun alasannya kalau bukan alasan syari perbuatan dosa tetaplah dosa, yang harus kita akui lewat istighfar dan bertaubat kepada Allah Swt

Selain itu sangat mungkin baik individu maupun struktur yang karena sebab tertentu ada yang melalaikan tugas yang telah diamanatkan seperti berinfak, direct selling. fundrising dan lainnya. Maka atas segala kelalaian itupun kita harus beristighfar dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Karena Jika sudah demikian maka janji Allah di ayat terakhir di atas yaitu berupa pahala di dunia dalam berbagai bentuk kesuksesan menurut versi ahli dunia insya Allah akan terealisir. Bahkan selain itu kebaikan/ pahala di Akhirat pun sudah menanti. Wallahu a’lam.

 

 
  Untuk tampilan terbaik gunakan Mozilla Firefox
  Hubungi Kami:
© 2006-2008 DPD PK Sejahtera Kabupaten Tangerang  
Jl. Puspiptek Raya No 8 - Setu - Tangerang 15413