|
TANGERANG - Proyek pembangunan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) dan jamban di dua kecamatan di Kabupaten Tangerang, yakni Kecamatan Sepatan dan Pakuhaji terkesan mubazir. Pasalnya, masih banyak warga setempat tidak menggunakan pembangunan tersebut yang menelan dana ratusan juta dari APBD 2005 itu.
Warga di dua kecamatan itu masih memilih buang hajatnya di kebun-kebun daripada sarana yang telah disediakan pemerintah tersebut. Selain itu, sejumlah sarana ini terkesan "dikuasai" oleh keluarga yang lahannya digunakan untuk pembangunan sarana.
Keluarga itu memagari sarana itu dengan anyaman bambu, sehingga warga lain kesulitan untuk masuk. "Saya nggak biasa ke kamar mandi. Enakan ke sana," kata Ningsih, salah seorang warga RT 02/02, Kampung Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan, sambil menunjuk kebun tak jauh dari rumahnya.
Warga lain juga mengakui, sejumlah warga kesulitan menggunakan sarana itu, karena "dipagari" pemilik lahan. Kebiasaan yang belum bisa dihilangkan sebagian besar warga bagian utara Kabupaten Tangerang itu diketahui ketika kalangan Komisi B DPRD Kabupaten Tangerang, melakukan peninjauan pembangunan dua sarana tersebut.
Dibangunnya sarana MCK dan jamban merupakan reaksi Pemkab Tangerang terhadap musibah penyakit muntaber yang menewaskan ratusan warga di kecamatan itu. Dalam APBD 2005, setiap MCK yang terdiri dari empat unit/ruang menelan dana sekitar Rp 17 juta.
Pemkab membangun sarana ini sebanyak 11 MCK. Sedangkan, untuk pembangunan jamban menelan dana sekitar Rp 4,8 juta. Jumlah jamban yang dibangun sebanyak 95 buah, yang terdiri dari dua ruang.
Kepala Seksi Air Limbah Domestik Bidang Penyehatan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Reni Nurani mengatakan, pihaknya tidak mengetahui kalau sarana-sarana tersebut fungsinya tak maksimal. Reni mengaku, sejak sarana itu dibangun, pada Desember 2005 lalu, pihaknya tidak pernah lagi memantau fungsinya. "Karena, kami keterbatasan dana. Namun, sebelum dibangun, kami telah memberikan penyuluhan kepada warga tentang fungsi sarana ini," kata Reni, yang ikut meninjau pembangunan.
Dalam peninjauannya, para anggota komisi yang menangani masalah kesejahteraan rakyat ini, terlihat terkejut. Bahkan, ada yang geleng-geleng kepala. "Kalau begini hasilnya, berarti sangat jauh dari substansi tujuan dibangunnya sarana ini," kata FL Satria Santosa, anggota komisi B.= andi setiadi Sumber: pakuanraya.com |