|
TANGERANG - Tiga unit kendaraan Pemadam Kebakaran (Damkar) hibah dari pemerintah Jepang terancam menjadi barang rongsokan. Selain berumur relatif tua dengan tahun produksi 1994, seluruh panel yang ada di kendaraan tersebut menggunakan huruf Jepang dan banyak yang tak berfungsi sehingga membingungkan petugas pemadam kebakaran yang akan mengoperasikannya.
Pemkab Tangerang sendiri untuk untuk mendapatkan hibah mobil-mobil bekas dari Jepang tersebut, telah mengeluarkan dana yang cukup besar. Anggaran yang tersedot seluruhnya termasuk biaya perbaikan mencapai Rp 4,3 miliar dari APBD 2005. Dana itu digunakan membiaya transportasi dan perbaikan (rekondisi) 5 truk sampah, 3 armada pemadam, 1 ambulans, 1 mobil tangki air pendukung damkar, ditambah dua eskavator.
Kekhawatiran mubazir keberadaan beberapa kendaraan pemadam kebakaran itu terungkap saat kunjungan kerja para anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Komisi B ke Kantor Damkar, beberapa hari lalu. "Penjelasan yang kami peroleh, armada kebakaran ini terancam jadi kendaraan pajangan di kantor Damkar. Sebab para Personel di instansi tersebut kesulitan mengoperasikan kendaraan dari hibah itu, tombol-tombolnya bertulisan huruf Hiragana (Jepang) serta banyak yang macet, dan ironisnya buku petunjuk manualnya tak dimiliki," ujar salah satu anggota Komisi B, Imron Rosadi Lc, Kamis (11/5).
Imron mengkhawatirkan sarana penanggulangan musibah kebakaran itu akan sama nasibnya dengan penggilingan padi milik pemkab di kecamatan Sepatan yang dibangun menghabiskan anggaran Rp 5 miliar, namun kemudian tak memberikan manfaat kepada masyarakat luas karena tidak bisa dioperasikan.
"Pihak Damkar bilang armada semacam itu di Jakarta sudah di-grounded alias masuk gudang, Kalau keadaannya seperti itu, kenapa tidak beli yang baru saja?," ujarnya dengan nada tanda tanya.
Pemerintah Kabupaten Tangerang mendapatkan mobil-mobil bekas itu pada 2005 setelah tim pencari hibah dipimpin Sekda H. Nanang Komara dengan beberapa pejabat, diantaranya Kepala Kantor Damkar Slamet Setiawan dan pejabat Kabag Perlengkapan waktu itu, Asep Kustina berangkat ke Jepang meminta negeri sakura tersebut memberikan bantuan guna mendukung kebutuhan sarana kendaraan di sejumlah lembaga. Pihak Jepang akhirnya menyanggupi dan setelah itu kendaraan hibahnya kemudian direkondisi oleh sebuah perusahan di Surabaya untuk kemudian dikirim ke Pemkab Tangerang.
Pada saat penyerahan dalam satu upacara di pusat pemerintah tigaraksa di lapangan Maulana Yudhanegara Tigaraksa, 17 April lalu, satu eskavator ternyata mogok dan baru bisa dijalankan keesokan harinya. Demikian pula crane (rantai) tangga mobil damkar nopol B 9372 CQ putus saat diujicobakan oleh petugas.
"Terus terang kami juga bingung, tombolnya banyak yang macet ditambah bahasanya susah dimengerti karena pakai huruf Jepang. Lah ini lagi, ada mobil tanki yang diatasnya pakai cannon water (tembakan air) segala. Padahal mobil begini mah di Jakarta dipakai buat nyemprot taman, gak tahulah kenapa sampai nyasar ke Damkar," ungkap salah seorang petugas pemadam tersebut.=CR 18
Sumber: pakuanraya.com |